(Jakarta) - Anggota Komisi XI DPR, Drajad Wibowo menilai dalam menyikapi melemahnya nilai tukar rupiah saat ini, pemerintah harus lebih berfokus untuk menjaga mata uang kita itu, agar tidak begejolak. Jadi, bukan pada usaha untuk menguatkan kembali rupiah.
"Dari sisi fiskal, yang paling bisa dilakukan pemerintah bukan menguatkan kembali rupiah. Yang penting adalah agar jangan sampai dampak kelemahan ini mendorong kebangkrutan usaha, PHK, dan kredit macet," kata Drajad, di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (28/10).
Menurut Drajad, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengendalikan rupiah, baik dengan strategi moneter maupun fiskal. "Namun kedua-duanya sama-sama mengandung resiko," ujar Politisi PAN ini.
Dari sisi mnoneter, lanjut Drajad, yang bisa dilakukan, dengan operasi pasar, menaikkan suku bunga dan mengontrol cadangan valas. "Kalau operasi pasar, kemampuan BI terbatas. Dengan kebijakan menaikkan suku bunga bisa memicu PHK dan kredit macet. Jadi dua langkah utama tidak mungkin efektif."
Langkah moneter ketiga, imbuh Drajad, melakukan kontrol cadangan valas di bank-bank maupun perusahaan nonbank. "Cara ini bisa dilakukan tapi hanya mengurangi sedikit dampak depresiasi rupiah dan tidak bisa mencegah depresiasi."
Sedangkan dari sisi fiskal yang bisa dilakukan, memaksa BUMN-BUMN menjual dolarnya. "Tapi ini berpotensi mempengaruhi kinerja BUMN, karena di satu sisi BUMN sudah disuruh melakukan buyback dan pasti saat ini mereka membutuhkan dolar," kata Drajad. (Adi/IOT-02).


