(Jakarta) - Pertamina tidak menanggung biaya transportasi elpiji di daerah yang belum memiliki infrastruktur pengisian tabung elpiji, seperti di kawasan timur Indonesia. Akibatnya, harga gas di wilayah tersebut kemungkinan besar membubung tinggi. Di NTT bisa Rp 200 ribu per tabung 12 kg.
Direktur Utama Pertamina Ari Sumarno mengatakan, kawasan timur belum menjadi target penjualan besar-besaran elpiji oleh Pertamina sehingga infrastruktur pengisian elpiji memang belum tersedia.
"Karena infrastruktur elipiji tidak ada maka mereka harus tanggung transportasi dari tempat pengisian tabung elpiji terdekat," kata Ari di Jakarta, Jumat (5/9).
Ari mencontohkan, di Kupang NTT harga elipiji bisa mencapai Rp 150 rbiu sampai Rp 200 ribu per tabung. SOalnya, tabung harus diisi di Bali. "Jadi, harganya memang bisa segitu karena tempat pengisiannya di Bali yang terdekat, kemudian diangkut dengan transportasi ke Kupang."
Menurut Ari, Pertamina hanya menentukan harga di tempat-tempat pengisian elpiji. Akibatnya, biaya tranportasi dari tempat pengisian ke daerah tujuan menjadi faktor pendongkrak harga elpiji yang kemudian dibebankan ke konsumen.
"Jadi harga elpiji di setiap daerah memang sudah berbeda-beda, tergantung jarak transportasi daerah dengan tempat pengisian elpiji terdekat," katanya. (Adi/IOT-02).


