(Jakarta) – Ahli komunikasi Politik Effendi Gazali berseloroh, tidak akan memilih calon independen. Pasalnya, dia mengaku sangat cinta dengan partai politik. Kecuali jika Jimly Asshidiqie, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi maju sebagai calon presiden melalui jalur perseorangan tersebut.
"Saya cinta parpol dan saya tidak akan memilih calon independen. Jadi, maaf saya tidak akan memilih anda saudara Fadjroel Rahman," kata Effendy saat bertindak selaku saksi ahli yang diajukan pemohon Fadjroel Rahman dalam pengujian UU nomor 23 tahun 2003 tentang Pemilu Presiden dan wakil presiden terhadap UUD 1945 di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Rabu (15/10).
Namun, lanjut Effendy, dirinya akan mempertimbangkan kembali pilihannya dalam memilih calon independen jika Jimly Asshidiqie ikut bertarung di dalamnya. "Tapi beda kalau yang maju Jimly Asshidiqie mungkin saya akan pikir-pikir lagi."
Menanggapi pernyataan Effendy ini, terlihat Jimly hanya menyunggingkan senyumnya.
Kaitannya dengan calon independen, kata Effendy mengatakan, meski masih cenderung memilih calon dari partai politik, yang terpenting dalam kehidupan politik demokrasi ini, mengurangi Kerugian Konstitusi Potensial.
"Calon independen itu sebagai vaksin atau antibodi yang tetap diperlukan oleh tubuh kita. Jadi yang terpenting jangan sampai ada KKP yaitu Kerugian Konstitusi Potensial," papar Effendy.
Dalam paparan ilmiahnya, Effendy juga melontarkan pertanyaan yang ia rasa akan sangat sulit dijawab baik oleh dirinya maupun orang lain.
"Kalau dalam pilkada boleh ada calon perseorangan, kenapa dalam pemilu presiden dan wakil presiden tidak boleh ada calon perseorangan?" tanya Effendy. (Mimie/IOT-02).


