IndonesiaOntime.com

Baner
Baner
Baner
Kamis, 08 Januari 2009  |  Home Opini Opini SBY - JK di Tengah Ancaman Pemimpin Muda

SBY - JK di Tengah Ancaman Pemimpin Muda

Oleh Nazir Amin

HASIL survei Lembaga Riset Informasi (LRI) lewat johanspolling yang dipublikasikan, Selasa (16/9), di Jakarta, membenarkan menguatnya keinginan untuk mencari pemimpin alternatif. Yang menarik, karena masyarakat ternyata menginginkan pemimpin muda untuk membawa Republik tercinta ini ke depan.

Lihat saja, hasil poling ’Pemimpin Pilihan Rakyat Menuju Pilpres 2009’ atau ’Menuju Indonesia 0914’ ini, menunjukkan faktor usia muda-tua, sangat berpengaruh bagi responden dalam menjatuhkan pilihan pada Pemilu 2009. Sebagian besar responden (54%) menyatakan, usia muda-tua berpengaruh sebagai pertimbangan memilih Capres/Cawapres. Hanya 37,6 persen yang menganggap pemerintahan yang baik tidak bergantung pada usia seorang calon pemimpin.

Dalam analisis Presiden LRI, Johan O. Silalahi, hasil survei yang diselenggarakan 25 Agustus 2008 - 7 September 2008 tersebut, jelas menggambarkan adanya ancaman serius bagi kesinambungan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, dari capres-cawapres muda. Calon pemimpin dari generasi muda menjadi ancaman serius bagi SBY-JK, dan calon pemimpin nasional lainnya.

Capres dan Cawapres muda Ancaman serius bagi SBY-JK?

Ya, tentu saja. Karena, hasil poling yang menjangkau 2.400 responden (data absah 2.313) dari seluruh populasi warga Indonesia di 33 provinsi, berusia 17 tahun ke atas itu, menempatkan SBY-JK tetap pasangan terpopuler untuk pilpres mendatang. Artinya, jika pemilihan presiden (pilpres) 2009 diselenggarakan sekarang, SBY-JK pemenangnya.

Nama pasangan ini tetap menjadi pilihan untuk pertanyaan, Capres dan Cawapres yang paling mampu memimpin Indonesia, termasuk untuk pertanyaan spontan. Untuk pertanyaan pilihan, responden menempatkan pasangan SBY-JK di posisi teratas (23,3 persen), dan pertanyaan spontan untuk menggambarkan pilihan yang ada di kepala responden, hasilnya tetap sama, SBY-JK tetap teratas, dengan prosentase 6,3 %.

Setelah SBY-JK, yang menempati posisi berikut sesuai pilihan responden, Mega-Akbar (16 %), disusul Prabowo-Sri Sultan (14,3 %), Hidayat Nur Wahid-Sandiaga S Uno (10,3 %). Di bawahnya lagi ada  Wiranto-Yuddy Chrisnandi (8,3 %), Sutiyoso-Fadel Muhammad (2,6 %), Pramono Anung-Sri Mulyani (2,6 %), dan Soetrisno Bachir-Gumilar (2,2 %).

Untuk pertanyaan pasangan Capres–Cawapres yang spontan dipilih masyarakat, setelah SBY-JK (6,3 %) berikutnya  SBY-Hidayat Nur Wahid (4,5 %). Mega-Sri Sultan (3,6 %), Mega-Wiranto (3 %), SBY-Sultan (2,7 %), SBY-Wiranto (2,2 %), serta Hidayat Nur Wahid-Sri Sultan (1,9 %).

Hasil johanspolling periode III ini, juga berhasil menjaring tokoh-tokoh muda terpopuler. Tiga besar popularitas Tokoh Muda Nasional, ternyata diraih Ketua MPR dan aktivis PKS, Hidayat Nur Wahid (41,8%). Berikutnya, ada Direktur Eksekutif Freedom Institute, Rizal Mallarangeng (13,6%), yang menuai hasil iklan capresnya di berbagai stasiun televisi. Di posisi ketiga, ada Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (9,8%).

Ada kejenuhan

Harus diakui ada kejenuhan masyarakat atas perjalanan bangsa dan negara ini, sampai 10 tahun era reformasi mengambilalih kekuasaan dari tangan Orde Baru, 1998. Kesadaran kolektif sebagian besar warga bangsa ini, tidak terlalu optimistik menatap masa depan.

Meski ada kemajuan yang dicapai pemerintahan SBY-JK, tetapi secara umum ada ketidakpuasan di tengah-tengah masyarakat. Meski angka kemiskinan diklaim turun drastis, tetapi faktanya gambaran kemiskinan hampir mewarnai sudut-sudut kehidupan masyarakat.

Harga bahan kebutuhan pokok, sejak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), terus membubung, sehingga nyaris tak terbeli bagi orang-orang kebanyakan. Nilai mata uang rupiah terasa terus menurun, sehingga harga barang-barang kebutuhan sudah tidak terjangkau, terutama bagi golongan ekonomi bawah, dan bawah sekali.

Tentu bukan sekedar faktor itu yang mendorong orang atau kelompok tertentu ingin mengganti kepemimpinan nasional. Benar, ada saja yang merasa lebih pantas menduduki kursi RI 1, atau setidaknya RI 2. Mereka menganggap lebih bisa mengurusi bangsa, dan negara ini, dibanding SBY-JK, atau siapa pun di Republik ini.

Perasaan jumawa itu, sangat mungkin juga menghinggapi para kandidat capres, dan cawapres dari golongan muda. Dan itu, sah-sah saja, sepanjang mereka memang mampu, dan tidak sekedar menawarkan pepesan kosong kepada masyarakat.

Persoalannya sekarang, masih panjang jalan yang harus ditempuh oleh kaum muda untuk naik ke panggung kepemimpinan nasional, terutama yang berharap masuk lewat jalur independen. Aturan mengenai pemilihan Presiden, dan Wakil Presiden di negara kita, belum mengakomodir tampilnya calon dari jalur perseorangan.

Ada sedikit harapan, yang sekarang ditumpangkan dalam gugatan ke Mahkamah Konstitusi. Paling tidak itu yang ditunjukkan Ketua Gerakan Nasional Calon Independen, Fadjroel Rahman. Anak muda ini optimistis Mahkamah Konstitusi akan memenangkan judicial review UU No. 23 tahun 2003 tentang pemilihan umum presiden dan wakil presiden.

Fadjroel berharap dua bulan ke depan Mahkmah Konstitusi, yang kini dipimpin Mahfud MD, sudah memutuskan hasil judicial review tersebut. Dalam nada yang tetap optimistik, ia menyebutkan, kemungkinan dua atau tiga minggu kemudian, akan ada putusan sela yang dapat menghentikan pengesahan revisi UU No 23 tahun 2003 oleh DPR, sampai ada putusan final atas hasil judicial review oleh MK.

Bagi kita, rakyat kebanyakan, siapa pun yang terpilih dalam Pilpres mendatang, dia haruslah bisa membawa bangsa dan negara ini keluar dari pusaran kemiskinan. Siapa pun orangnya, sang pemimpin harus bisa menegakkan hukum, dan memberantas korupsi. (Nazir Amin, wartawan indonesiaontime.com).  

 

Top Stories

Halaman : Home Opini Opini SBY - JK di Tengah Ancaman Pemimpin Muda