Senin, 03 Januari 2022

Robohnya surau kamu, bukan fiksi

Pada suatu malam yang dingin dan sunyi, terdengar suara yang amat keras, seolah ada benda besar yang jatuh dari langit, atau seperti suara ledakan, atau seperti ada sesuatu yang roboh. pada tengah malam, tepatnya pada pukul 02.35 malam, saat orang orang masih hanyut dalam alam mimpi, atau mereka yang asik berfantasi.

"kau dengar itu kang" Parjo memandang kearah Minto dengan tatapan penuh tanya, dengan sorot mata di bawah lampu yang temaran.

"iya jo, aku juga dengar, kaya suara gunung mleduk"

Parjo juga bertanya pada Kunto dan Parno mereka juga menyiyakan. batu gaple dan lembaran uang dengan berbagai pecahan terbaikan. Mereka berempat masih terus bertanya apa dan darimana asal muasal suara yang terdengar mereka dengar tadi.

#

Dikolam pemancingan ikan, Samsul dan Memble juga mendengar suara yang sama dengan apa yang didengar Parjo, Minto, Kunto, dan Parno di gubuk tengah persawaahan.

"Mble, kayaknya rumahmu ambruk, suaranya terdengar sampek sini, coba kamu lihat" ungkap Samsul sambil cengengesan, lalu diikuti, tegukkan minuman fermentasi anggur merah dalam botol kaca bening.

"ngawur, itu suara gubukmu kena ajab, yang sering kamu jadikan tempat asik-asik ama janda bolong itu".

"oooo dasar tukang ngintep, jangan kamu videoin ya, tak hajar kamu, oiya mble kira kira suara apa ya mble, suaranya kayak deket banget"

"walah paling juga suara mobil truk ambruk kelebihan muatan, apalagi jalannya oleng, ketemu lubang, kan kamu tahu sendiri jalan di kampung ini udah kaya kolam ikan"

#

Antoni loncat dari kursi, menubruk Mail yang sedang push rank, mereka berdua akhirnya terjatuh kelantai, sumpah serapah, makian, segala macam nama binatang, segala macam kosa kata nakal dengan berbagai macam bahasa keluar dari mulut mereka berdua.

Terlebih lagi ketika mereka mengetahui ponsel yang mereka gunakan untuk ngegame jatuh terguling dengan syantik, dengan epik. Yang mereka pikirkan nasib para hero yang kena hajar, sampai triple kill. mereka berdua segera cepat-cepat mengambil kembali ponsel yang beberapa detik lepas dari genggaman.

Mereka masih mengumpat, terutama Mail yang mengumpat pada Antoni yang menubruknya dari depan. Mereka tak sampai baku hantam saja sudah untung, karena hero mereka sedang berjuang.

kembali pada parjo dan ketiga kawannya yang sedang berpikir keras bagaimana mendapat untung besar dari apa yang mereka mainkan.

Seusai mereka menjawab sendiri, hal dan prihal mengenai suara tadi dengan jawaban asal, mereka melanjutkan permaiananya, meraka mengangap suara batu gaple lebih merdu dari pada suara yang tidak jelas.

Sedang Samsul dan Memble telah teler sampai-sampai joran pancing mereka tanpa sadar sudah berada di tengah kolam karena ditarik ikan.

Antoni mengumpat, Mail meradang, hero mereka mati dan permaian game over. Rank turun, pangkat anjlok, mabar pun bubar. Kedua anak yang masih diduduk di bangku smp ini kesal, kesal pun bertambah tak kala mengingat tugas sekolah daring yang belum di kerjakan.

Pada saat yang sama, orang-orang yang sedang lelap dalam tidurnya seketika terbangun, "mimpi apa barusan" begitu tanyanya. Yang jelas suara itu sangat nyata dan itu bukan sebuah mimpi. yang beristri bertanya pada istrinya, yang beribu bapak, bertanya pada ibu bapaknya, yang jomblo bengong, sesekali bertanya pada tembok yang bisu.

suara itu bener-benar membuat semua orang bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi? suara apa itu sebenarnya, perasaan ngeri mulai muncul di sanubari. Mereka saling mencari kabar melalui ponselnya. jejaring sosial, aplikasi perpesanan, panggilan suara melalui sambungan telepon terus bersahutan.

Tak lama, kabar berita itu mempunyai jawaban yang terang benderang ditengah malam. Rupa-rupanya salah seorang warga memberi kabar, pada semua orang kalau surau yang berada di tengah pemukiman mereka roboh, ya benar surau mereka roboh, rata dengan tanah dan hanya menyisakan puing-puingnya saja. Seketika itu pula berita itu menjadi gempar, viral sekecamatan. lingkungan warga sekitar surau beranjak dari tempat istirahatnya, lampu-lampu yang semula telah padam kini kembali menyala, mereka keluar seolah pagi telah datang dan bersiap untuk memburu harta.

Ada yang masih menggunakan seragam tidur, sarung, ada yang menggunakan singlet, yang mengunakan singlet mungkin kegerahan karena efek samping fantasi.

Ramai, kurang lebih suasanya sama ketika ada pasar malam ditengah lapang, atau ketika ada sebuah kecelakkaan terjadi. "Dari pada penasaran mending saksikan langsung", begitu ujar mereka.

Dalam perjalanan ada anak bertanya pada bapaknya kenapa orang orang pada keluyuran tengah malam?. sang anak mengucek matanya yang rapat direkat belek, mulutnya menguap, serta jalannya linglung.

Sang bapak menjawab, surau yang ada di depan wak haji roboh, padahal 5 bulan lalu saat terawih masih segar bugar, kokoh dari segala sisi. sang anak manggut-manggut sambil terkantuk-kantuk, mencoba menegakkan punggungnya yang lelah seharian mabar bersama kawan-kawannnya

Dibagian lain, Robi mengajak istrinya turut serta, sebab sang istri takut jika ditinggal sendirian, takut sang suami bertemu janda muda yang rumahnya tak jauh dari surau yang roboh itu. Dengan riasan wajah,  setelan pakaian yang  aaaaa sudahlah, pakaian orang muda memang tak pantas digunakan orang yang sudah berumur, berumur belum tentu jiwanya tua, belum tentu telah dewasa, karena kedewasaan tidak selalu sejalan dengan umur. Di pegang erat itu punya sarung yang digunakan suaminya seolah sang suami hendak kabur.

"lepasin sih bune, malu dilihat orang orang''

"apa pak" dengan sekali tatap, sang suami melempem, tak berani mengatakan sepatah katapun, meski dalan batinnya sudah meluap semua isi hati yang tertahan.

Di sebelahnya pula ada untung berjalan bertiga bersama amin dan udin, tak hentinya mereka menyembunyikan tawanya disudut bibir. cekikikan persis seperti jaran yang sedang menggoda. Saking lucunya untung tersandung,  kerikil kecil yang tak kasat mata, untung saja ia tak sampai terjatuh, kalau sampai terjatuh, tawa amin dan udin pasti lebih keras lagi, untung saja ia masih untung. kalau tak untung mending ganti nama saja, mungkin slamet atau bejo gitu.

Tak berapa jauh untung menyletuk, buset, rame banget, kaya ada pembagian bantuan. untung segera berlari, disusul amin dan udin di belakangnya. saking ramainya udara dingin tak terasa lagi, berdempet dempetan, sayangnya ini bukan acara dangdutan. tapi memang benar pribahasa , ada gula ada semut, tak perlu dibuktikan lagi kalau sudah ada didepan mata.
lampu flash posel menhujani surau yang roboh, asik mengabarkan kesegala penjuru, biar eksis, bikin terkenal.

Pak RT datang mebelah kerumunan, dengan datangnya pak RT pula, para warga di minta untuk menjauh dari surau yang roboh. suara pak RT memang paling lantang diantara para warga lainnya, memang pantas ia diangkat oleh para warga untuk jadi ketua RT, dengan begitu, suara warga terwakili oleh suara pak RT. karena kelantangan suaranya ia sering diminta untuk jadi juru kabar jika ada warganya yang mendapat musibah kematian. gak tau kalau masalah kehidupan ya.

Para warga berangsur mundur beberapa langkah, meski yang dari belakang masih coba merangsek kedepan. pak RT memberi ultimatum kepada semua warga tanpa terkecuali untuk tidak mendekat, dengan lantang pak RT mengatakan ditakutkan ada bom yang meledak. kontan semua warga mundur beberapa meter dari jarak sebelumnya.

Pak RT segera menghubungi Pak Lurah untuk segera menghubungi polisi untuk segera datang.

"kira kira ambruknya kena apa ya pak, kok bisa rata dengan tanah''

Sang suami terdiam, fokus pada puing-puing surau. sang istri mengulangi pertanyaannya, namun sang suami tidak menjawab. malah terlihat bengong seperti menatap sesuatu.

"aduh bune ini kenapa to pake acara cubit perut bapak segala kan sakit bune"

"bapak ngeliatin apa?" singa masih kalah galak dengan eraman sang istri, matanya melotot mewakili segala kata "pulang saja pak, apa bapak mau tidur diluar" sang istri berjalan menjauh dari kerumunan, sang bapak mengejar dengan tergopoh-gopoh membuat perutnya yang buncit naik turun, napasnya engap, tidak seperti 20 tahun lalu.

Riuh suara warga, saling bertanya, saling menjawab, saling beropini, saling berasumsi, saling menyimpulkan. Yang jelas mereka semua sebenarnya tidak tahu, penyebab sebernanya kenapa suarau ini sampai roboh. ini kejadian langka dan belum pernah terjadi di dunia, salah maksudnya di negeri ini, soalnya di dunia, bukan hanya hanya surau yang roboh tapi masjid yang besar, entah itu kena hajar roket, pelor tank baja, atau serangan menadadak pesawat tempur tak kala orang orang sedang mengerjakan shalat. katanya, ini kataya loh ya, kata media sono, karena masjid jadi sarang teroris, dan teroris harus dibasmi, masalah terorisnya ada atau tidak, bener atau salah itu urusan belakangan yang penting hajar dulu masjidnya biar terorisnya mati. kalau tak terbukti, gampang, tinggal minta maaf, beres semua. jika ada korban jiwanya, anak-anak pula, ah itu salah sendiri kenapa ada dimasjid.

Polisi datang, jelas terdengar meski masih jauh, suara sirinenya ngalahin suara corong pas muazin sedang adzan, lampu rotatornya bersinar biru dan merah bergantian, mirip miriplah dengan lampu disko di warung remang-remang seratus meter dari tempat kejadian.

Pak Rt maju, menyambut pak Polisi, memberi hormat, mobil Polisi berhenti, sirinenya diam tapi rotatornya masih menyala. pak Polisi keluar dengan seragam yang gagah, langkahnya juga gagah, membuat semua orang jadi kagum. Ada empat orang Polisi yang datang bersama pak Lurah. Setelah sambutan singkat, pak Polisi langsung menuju ke tkp, seorang Polisi muda membawa garis Polisi, dibantu pak RT, garis Polisi itu diulur panjang sampai melingkari seluruh surau.

warga yang bermukim di sekitar surau dimintai keterangan, di catat,
di minta jadi saksi. Salah seorang saksi mengatakan hanya mendengar suara roboh, dan ketika dilihatanya, surau sudah roboh. Sebagian saksi tidak mengetahuinya sebelum mendengar suara warga yang datang berbondong bondong.

"kok bisa anda tidak tahu, padahal menurut yang saksi lain suaranya cukup keras, rumah anda juga persis didepannya"  selidik polisi

"Saya baru pulang kerja pak, ada lemburan, dan setelah itu saya langsung tidur, ini saja belum sempat mandi"

"pantes bau kecut" ungkap pak polisi mencairkan suasana. sontak para warga tertawa, sedang sang saksi cengar cengir kaya kebo disawah, padahal ia sangat kesal karena di tertawakan warga.

Pernyataan para saksi semua hampir serupa, polisi bertanya apakah ada diatara warga yang mengetahui prihal penyebab robohnya surau ini. Para warga terdiam, ada yang tidak tahu , ada pula yang tahu tapi tak mau ambil repot, diam saja biar aman, begitu pikirnya.

Pak polisi masih menyelidiki, mengambil gambar dengan kamera berlensa tunggal. mengamati setiap puing dari setiap sudut, mencium serpihan puing, bener-bener di selidiki pokoknya. Kalau tidak nanti di kira main-main. Apa kata dunia kalau nanti ketahuan, bukan main malunya.

"Baru kali ini aku melihat dengan mata kepalaku sendiri ada surau sampai roboh dengan sendirinya, bener-bener kejadian langka yang mungkin terjadi satu per sejuta di sebuah abad"

"padahal jika dilihat dari bangunannya, sarau ini masih cukup kuat sampai seratus tahun lagi"

"namanya juga takdir, tak dapat dicegah, tak dapat ditolak, dan tidak ada ada yang meminta."

Pak RT yang ditanya-tanya pak polisi hanya menjawab seperlunya. Karena memang sudah lama ia tak pernah masuk kesurau ini, pak RT lebih sering solat dirumah karena selain jadi ketua RT ia merangkap sebagai maklar sapi yang tak tentu pulangnya.

Pak RT juga para warga umumnya mengangap salat dirumah atau di surau sama saja, yang penting niatnya, yang penting kewibannya sebagai umat islam telah di jalankan, kan urusan diterima atau tidak itu urusan tuhan, satu derajat yang di tunaikan dengan iklas lebih baik 27 derajat yang ditunaikan dengan mengharap pujian.

Pak RT memang pebisnis sejati, segala macam hal ia hitung, pantas karirnya sebagai makelar di akui sampai ke tanah seberang. Tapi jika semua orang berpikir seperti pikiran pak RT ini, ya bisa dipastikan surau akan kehilangan suaranya dan akan mati, lalu buat apa bikin surau, buat pajangan, jadi bangunan seni, oh iya kan masih digunakan pak RT buat menyiarkan kabar kematian, daripada tidak.

Dari kesaksian warga pula , memang surau ini hanya di gunakan waktu shalat magrib dan isya saja, apalagi setelah wak haji yang biasa menjadi imam meninggal dunia. Seolah terputus, aktivitas keagamaan yang biasa dilakukan rutin perlahan hilang, jangankan yang sunah yang wajib saja sudah jarang. Memang agama jika tidak didakwahkan akan hilang, yang kurang lebih seperti aliran sungai yang dibendung. sungai dibagian bawahnya akan mengering. Memang kita saat ini masih islam, tapi bagaimana generasi selanjutnya, ah sudahlah, agama memang tak menguntungkan, deperti kata mereka.

Dahulu ketika wak haji masih hidup ia getol sekali melakukan dakwah, jika tidak ada kawan, ia bergerilya sendiri. Ada yang mau mengikuti, tapi cuma sehari dua hari, ada yang mau mengikuti, karena tidak enak dikarena tetangga sendiri, ada yang mengikuti, karena masih ada ikatan keluarga, ada yang masa bodo, didepan bilang iya iya, tapi tak mau mengikuti, ada pula yang menolak, dengan seribu satu alasan. Ini sejalan dengan ungkapan ada seribu jalan jika ada niat, ada seribu alasan jika tak ada niat.

Pantang menyerah, itulah prinsip wak haji, karena ia menggaggap hidup di dunia ini cuma sekali, bikin jadi berarti, sudah tua ini, sudah mendekati kematian, kalau diri tak untuk tuhan, untuk siapa lagi.

Meninggalnya wak haji adalah tanda terputusnya arus keagamaan di disekitar surau. tidak ada lagi yang meneruskan, mungkin agama sudah tak peting lagi, kan gak menguntungkan secara materil, gak ada duitnya.

Kini yang tersisa hanya beberapa orang saja yang masih menghidupkan surau, tapi yang begitu, magrib dan isya. Mohon di maklumi, kondisi badan sudah sepuh, otot otot sudah kendur, ingatan juga berangsur luntur. masih mending lah dari pada tidak ada sama sekali. Jangan megaharapkan yang muda, jangan pokoknya, mereka masih sibuk, entah sampai kapan.

Yang paling terlihat ketika adzan tiba, sudah tua ompong pula, coba bayangin tuh suaranya, jelas kalah dengan suara muazin yang berkumandang di tv. kadang diiringi suara terbatuk, kadang berhenti lama, hehhh menarik napas panjang huh huh huh. Dulu, dulu sekali, ketika anak anak masih mau mengaji, urusan adzan jadi rebutan, tapi itu dulu, ngaji juga sekarang sudah tak asik lagi, asik juga mabar, dari pagi sampe pagi lagi pun di jabanin.

Sepeninggal wak haji, memang begitu ketara perubahannya. surau semakin sepi, bahkan tak ada lagi.
cuma di bulan romadhan suara ini hidup lagi, awal ramadhan saja, tengah dan akhirnya, entah mungkin sudah lupa kalau bulan ramadhan. siang sibuk kerja, malam istirahat, buat persiapan hari lebaran, buat kesana kesini, wara wiri ke rumah saudara, tetangga, handai taulan. Entar kalau ditanya-tanya soal harta gak jadi masalah.

Jika dihari-hari biasa, ya biasa saja, seperti hari biasa, kecuali ada aktifitas lagi kalau kedatangan para dai. Tapi masyarakat disekitar surau tidak peduli, atau bahkan benci.
Bagi mereka dai hanya orang pemalas dan enggan bekerja, hidup kok cuma untuk agama, meninggalkan anak istri, tidak sesuai dengan falsafah hidup mereka, hidup bahagia hanya dapat diraih dengan harta, dan harta hanya dapat diraih dengan bekerja bagai kuda, pagi siang sore malam, andai kata waktu dalam sehari ada 100 jam mungkin akan digunakan untuk bekerja.

Jika ada dai datang mereka sembunyi, lari seolah punya hutang yang belum dibayar. padahal dai cuma mengajak sholat, bukan mengajak maksiat, gak nagih hutang gak minta uang.

Yang pandai beragama di sekitar surau pun kadang enggan untuk beribadah kesurau ketika para dai datang. Tertutur kisah dari dai, pernah sekali ia datang kesebuah pemukiman di deberang lautan, sebuah negeri yang dahulunya, tempat awal mulanya islam masuk kenegeri itu, tempat para wali menyebarkan dan mendakwahkan islam.

Di pemukiman itu dulu kental sekali dengan syiar islam tapi seiring zaman, kemasyurannya kian pudar. Para dai datang kesana lillahi'taala untuk mengajak para warga disekitar pemukiman untuk  beribadah ke masjid maupun surau. Tiap-tiap rumah didatangi, ada yang mau ada yang enggan, sudah biasa tutur dai. Sampai ia bertama ke kediaman seorang tetua adat, sekaligus tokoh agama di daerah itu.

Sang dai dengan sopannya bertamu, dan di persilahkan masuk. Tentu sang dai senang, karena dapat betemu dengan tokoh agama setempat untuk berbincang bincang masalah. setelah basa basi sampailah ke pokok pembicaraan, sang dai dengan telingan sendiri mendengar dari tokoh agama tersebut, beliau mengatakan, garam tak mungkin mengasini lautan, deg detak jantung sang dai tertohok, ia tahu betul apa makna di bali ucapan tokoh agama tersebut.

Dengan segala hormat, sang dai menjawab, "mana mungkin kami sebagai garam mengasini lautan, bahkan samudra, kami datang untuk sowan untuk belajar, tak mungkin pula kami menggurui para guru yang lebih pandai, kami datang kemaripun menjalankan salah satu dari tugas umat islam yaitu dakwah, karena pada dasarnya ilmu yang baik adalah ilmu yang diamalkan, dan kami mengamalkan ilmu itu seperti hadist yang yan mengatakan sampaikan walau satu ayat"  sang tokoh agama terdiam, selesai tutur cerita sang dai.

"agama saat ini cuma ceremonial belaka, agama saat ini juga sudah dianak tirikan, bahkan coba dihilangkan." ungkap dai menambahkan.

"petani sibuk pada pertaniannya, politikus sibuk pada politiknya, pekerja sibuk pada pekerjaannya, semua orang sibuk, dengan dalih kesibukannya manusia melupakan agamanya, melupakan tuhannya, sedang tuhan mengetahui sesagala sesuatu.

Mungkin benar kata Nietsche, got is tot, gott bleibt tot, und wir haben ihn getotet

Tuhan sudah mati, tuhan tetap mati, kita sudah membunuh tuhan.

Dengan matinya tuhan, manusia leluasa mnjadi tuhan bagi dirinya sendiri, baik buruk urusan sendiri, hidup mati urusan sendiri, jika tak setuju maka harus di benci.

Dengan atau tanpa sadar manusia telah membunuh tuhan, dalam ritual , dalam pikiran, dalam hati, menggantikan tuhan dengan uang, menggantikan dengan materi yang sifatnya nyata, konsepsi tuhan pun semakin kabur, tuhan tidak lagi maha kuasa, tuhan tidak lagi esa, ada tuhan tuhan lain selain tuhan, bahkan tak bertuhan.

#

Semakin lama, semakin banyak orang yang datang, penasaran dengan apa yang terjadi, apalagi belum lama ini, di surau ini ada kejadian orang bisu mengumandangkan adzan, kini surau ini ambruk tanpa di ketahui penyebannya.

"orang orang memang sudah gila ya min"

"gila, maksud kamu apa din, la wong orang orang seger waras gitu kok kamu bilang gila, kamu mungkin yang gila"

"gini lo min, kan ini surau, tempat untuk ibadah, dulu waktu masih berdiri tegak, dan adzan berkumandang, kan waktu nya untuk shalat, tidak ada yang datang, kini, giliran sudah ambruk orang orang semuanya datang, kan namanya gila"

"ngawur kamu min, orang orang gak gila cuma belum waras aja, kan salah satu syarat sahnya sholat adalah waras"

"sama saja itu namanya din, btw, kamu aja jarang shalat"

"gak tau kamu min, udin itu rajin shalatnya, tapi pas lebaran doang"

aahhahhahahahah untung dan udin ngakak parah.

karena semakin lama semakin ramai, dan dikhawatirkan terjadi hal yang tak diinginkan, polisi melalu pengeras suranya memberi perintah untuk segera membubarkan diri.

sedang pak RT memerintahkan kepada petugas yang hari ini jaga di poskampling untuk menjaga reruntuhan surau sampai pagi takut ada yang di jarah.

satu per satu warga mulai meninggalkan reruntuhan, kembali kerumahnya masing masing. masih ada waktu untuk melanjutkan tidur sampai pagi.

jika dulu dalam hikayat Robohnya surau kami karya  AA Navis,
manusia masuk neraka karena terlalu taat beribadah hingga menelantarkan keluarga, dan kerabatnya. kini manusia karena terlalu sibuk mengurusi keluarga  dan dunianya menelantarkan agamanya, melupakan agamanya, bahkan minghilankan agama dan tuhan dalam dirinya. manusaia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri.

sehingga ada surau yang roboh, surau yang ditinggalkan, semoga saja kejadian ini tak terulang lagi. dan surau baru segera dibangun.

sekian


#usmansan99

#honja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar