Sabtu, 19 Februari 2022

(Don't) judge the book by the cover

Mungkin saja kita sering mendengar kata-kata bijaksana ini, "Don't jugde book by the cover", yang jika diterjemahkan langsung artinya jangan menilai buku dari sampulnya, atau kalau di tafsirkan artinya jangan menilai sesuatu pada penampilannya. Yang mana ini seolah menjadi mantra ajaib untuk menutupi sebuah kekurangan. Nyatanya buku akan lebih menarik jika mempunyai sampul yang bagus. Sedangkan isinya pasti akan menyesuaikan sampulnya, kan tidak mungkin banget sampulnya sudah di buat secantik mungkin tapi isinya biasa saja. Andaikata Kalau ini di terapkan dalam sistem marketing tentu saja tidak akan laku. Karena cinta datang dari mata turun kehati, bukan memaksakan hati untuk mencintai sesuatu apa yang di lihat dimata.

Sampul atau penampilan menjadi poin paling penting di segala aspek kehidupan. Karena di balik penampilan yang menarik pasti ada sesuatu yang lebih menarik di baliknya. Begitu pula dengan kita sendiri, jika kita sendiri, jika punya penampilan menarik pastilah banyak orang yang akan suka. Ingat apa yang di tampilkan di luar adalah cerminan yang ada didalam, layaknya isi dibalik botol kaca. Jika botol kaca isinya adalah sebuah air maka jika dituanga akan keluar air, kalau yang didalam botol kaca isinya minyak maka jika dituang akan keluar minyak. Apakah mungkin jika dituang isinya terbalik. Begitu pula dengan kita, kebaikan diluar adalah cerminan kebaikan didalam.

Tidak semuanya benar, terkadang apa yang di tampilkan di luar berbeda dengan isi yang didalam. Itu kalau kita benar-benar bisa mengetahui dangan seksama. Seperti istilah, preman baik, pencuri yang dermawan, pelacur yang welas asih, atau pembohong yang menawan. Memang pada setiap diri manusia mempunyai kebaikan, akan tetapi apakah elok kebaikan itu di campur dengan keburukan, melakukan keburukan demi kebaikan sudah tentu salah. Jangan sampai kita menggunakan standar ganda dalam menilai.

Coba bayangkan kembali, ada dua pedangang makanan, yang pertama menggunakan gerobak dengan etalase kaca, dan yang kedua tanpa penutup sama sekali. Mana yang akan anda pilih. Ya tentu saja pedagang yang pertama, secara kesan pertama pedagang pertama sangat menjaga kebersihan. Meski keduanya menjual makanan yang sama, kalau kemasan dan penampilannya menarik tentu akan lebih menarik untuk pembeli.

Bagaimana jika ini mengenai rupa manusia? bagus rupa memang mempunyai previllage lebih dalam segala aspek kehidupan. itulah mengapa orang-orang berlomba-lomba untuk menjadi bagus rupa. yang tentu saja semua itu bisa dirubah, karena salah satu takdir yang dapat dirubah, asala punya kemauan dan usaha, poles dikit jadilah bagus rupa. dengan kepintaran, keabaikan, kekayaan apa sih yang tidak bisa.

#usmansan99
#honja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar