Kamis, 02 Juni 2022

LDII SOK SUCI?

Rasanya sering kali saya mendengar  cerita dari orang-orang kalau shalat di masjid LDII, setelah selesai shalat  maka marbot masjid setempat akan langsung membersihkannya dengan menyapu dan mengepelnya. Tidak hanya satu atau dua orang saja, namun hampir semua orang yang "tak seorganisasi" dengan LDII akan mendapat perlakukan yang sama. Mereka sok suci sekali, seolah-olah selain jamah organisasi mereka adalah najis yang perlu untuk di bersihkan, apakah itu benar?

Baik, akan saya wakilkan kalian untuk menyampaikan kegelisahan-kegelisan itu. Kalau kamu (pembaca) tidak cukup open minded diharapkan untuk berhenti membacanya.

Saya sendiri bukan bagian dari organisasi islam LDII, dan juga bukan pula bagian dari organisasi Islam lainnya, karena saya sendiri tidak tertarik bergabung dengan organisasi islam manapun, cukup bagiku Islam sebagai agama yang mempersatukan umat.

Soal mengepel bekas sholat itu benar adanya, valid, meski saya sendiri belum pernah mengalami sendiri, namun dari saksi yang terpercaya maka sumber ini dianggap valid.

Tentu kita bertanya-tanya mengapa mereka melakukan hal demikian, tentu pasti ada alasannya. Setelah saya telusuri dan mengingat kembali ternyata ada jawaban yang terlintas dalam benak ini.

Saya punya saudara yang tergabung dalam organisasi LDII, sejak kecil saya selalu memperhatikan ketika ia buang air, entah itu buang air besar atau buang air kecil, ia selalu melepas pakaiannya hampir secara keseluruhan dan berjongkok, padahal ia seorang anak lelaki, berbeda dengan saya yang tinggal tarik itu resleting lalu keluarkan cucak rowo mungil dan bergidik saat buang hajat.

Dari situ saya mulai menyadari kalau orang LDII sangat memperhatikan keberihan dan kesucian diri, baik dari tubuh, pakaian dan tempatnya. Jadi wajar kalau selain jamaah mereka, maka akan langsung dibersihakan karena keraguan kesucian badan dan pakaian dari orang lain. Di tempat saya saja, untuk buang air kecil, entah itu dewasa maupun anak-anak, terbiasa melakukannya dengan berdiri, karena saya pun pernah melakukannya.

Padahal dengan kencing berdiri dan tanpa melepas pakaian bagian bawah secara keseluruhan, pantulan dan cipratan air kencing itu akan kembali ke pakaian. Apalagi setelah itu tidak berdehem untuk  mengeluarkan sisa air kecing yang masih berada di saluran kecing yang sewaktu waktu bisa keluar. 

Dari sini saja dapat ditarik kesimpulan bahwa mereka memang sangat amat menjaga kesucian baik badan, pakaian dan tempat yang mana sudah jelas kesucian adalah salah satu syarat sahnya dalam shalat.  

Mereka juga telah menanamkan pemahana itu sejak kecil seperti halnya saudara saya yang sejak kecil sudah paham mengenenai toharah. Berbeda dengan saya yang hanya tahu kalau toharoh itu cuma wudhu.

Kita juga dapat membandingan kebersihan tempat buang hajat di masjid LDII dengan masjid pada umumnya, apakah ada bau pesing?

Bercermin dari itu, Maka perlu dari kita instropeksi sebelum menjudge, perlu bertanya pada diri sendiri apakah kita menjaga kesucian diri atau malah abai, apakah sudah benar cara bersuci kita. Itu kembali pada diri sendiri, dan sebagai umat islam patutlah menghargai tanpa perlu menghakimi.

Saya malah merasa seperti di tegur dari pada tersinggung, meski secara tidak langgung mereka mengatakan untuk lebih peduli terhadap kebersiahan dan kesucian. bahkan saya merasa organisasi LDII adalah organisasi yang patut di contoh terutama soal kebersiahan dan kesucian. lalu, apakah LDII sok suci?

#usmansan99
#honja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar