Sabtu, 25 Juni 2022

Menggapai langit

 Kewarasanku merosot, berganti dengan keremajaanku yang ambigu. Sudah sekian lama aku berlari mengejar sesuatu yang kini kusadari bahwa semua itu semu. Aku laksana ayam yang menyaksikan elang terbang tinggi.



Boleh dikatakan delusi yang kuciptakan sudah mendekati reality. Tak perlu ku akui juga kalau itu memang benar terjadi. Derap langkah yang penuh kisah dan emosi itu hanya ada dalam panggung imaginasi.


kadang aku menyesali, tapi aku melakukannya lagi. Agaknya memang lebih mudah bermimpi daripada beraksi.


Lalu kejenuhan, kemandekan, ketidakberdayaan, kekosongan melahirkan ruang hampa tak bertepi. Masa kelam seolah tiada pernah berlalu. 


Telapak tanganku kecil, pun dengan jari-jarinya, terlalu mungil untuk lelaki yang punya jiwa perkasa. Seorang nyonya pernah berkata, tanganku seperti tangan perempuan, seperti tangan penari. Apa hendak dikata, kenyataan tak bisa ditutupi.


Sekurang-kurangnya aku pun mengakui. Dengan tangan sekecil ini jiwa yang serakah hendak menggenggam segalanya. Aku tidak peduli dengan reality, tapi sayang, mimpi tetaplah mimpi.


Dikatakan lagi, oleh diri sendiri, bahwasannya aku tak perlu menggapai langit yang tingi, itu tak pasti, itu sebuah kebodohan yang hanya melahirkan kekecewaan dari rahim pemimpi.


Mimpilah, dan saat terbangun,  hiduplah, bukan terus melanjutkan mimpi. 


Aku terus memandangi tanganku, agaknya aku yang salah, bukan tuhan, bukan juga ibu-bapak serta leluhurku. Ditangan yang sekecil ini mungkin ada sesuatu yang dapat kuraih.


Mungkin kerikil, mungkin juga jarum, atau setidak-tidaknya masih bisa untuk menjabat tangan yang hangat.


Jika langit begitu tinggi, kenapa tak kubuat saja sebuah tangga.


Seorang terman menasehati, kau tak perlu menggapi langit yang tingi, kau hanya perlu istri.


#usmansan99

#honja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar