Jumat, 24 Juni 2022

Penari izu, roman remaja yang tak usai

Penari Izu atau Izu no odoriko, cerpen karya Kawabata Yasunari ini adalah cerpen jepang yang pertama kalinya kubaca seumur hidupku, aku masih SMP ketika membacanya. Jiwa mudaku yang ingin berpetulang ke negeri sakura itu seolah mendapat jawaban saat membaca cerpen ini.


Saat itu saat aku masih duduk di kelas 1 SMP, dan tak sengaja kutemukan buku bersampul putih dengan gambar seorang gadis berpakaian kimono, dengan judul penari-penari jepang terbitan Djambatan. Aku menemukannya diantara tumpukan buku di perpustakaan sekolah yang tak terawat, kebetulan saat itu ada praktik komputer dan ruang prakteknya menyatu dengan ruang perpustakaan. Aku juga masih ingat saat itu bulan januari tahun 2007, dengan hujan yang berderai setiap hari. Aku membacanya beberapa lembar dan aku langsung jatuh cinta, seperti mimpi yang menjadi nyata.


Bagaimana tidak, sangat sulit sekali menemukan buku terjemahan dari jepang di sebuah tempat yang terletak jauh dari kota. "ini harta karun, sebuah perjodohan yang tak disangka-sangka.'' ungkapku dalam hati.


Tanpa izin, kuselipkan buku yang panjangnya seukuran satu jengkal itu kebuku tulis yang kubawa, toh daripada menjadi usang tanpa ada yang membacanya, lebih baik kubawa dan baca dirumah saja. kukira buku juga punya jiwa yang akan merasa kesepian jika diabaikan, atau buku yang bagus adalah buku yang lusuh karena seringnya dibaca.


Aku membacanya, aku suka, ada beberapa frasa yang di biarkan saja tanpa diterjemahkan seperti Shoji yang berarti pintu kayu, Tabi yang berarti kaus kaki, Takenokawa yang berarti bungkus dari daun bambu dan masih banyak lagi.

Meski saat itu aku terlalu muda untuk memahami inti sarinya, tapi aku cukup mengerti dan memahami isi ceritanya. Cerpen sederhana yang cukup dalam dan penuh emosi. Di tulis dengan gaya bahasa serta alur yang mengalir laksana arus tenang tapi menghanyutkan.


Pada tahun 1968 ia diganjar penghargaan nobel dalam bidang kesusastraan, ini nobel pertama jepang dan menjadi yang kedua di asia setelah sebelumnya Rabindranath Tagore dari india mendapatkannya pada tahun 1913. sebuah pencapain luar biasa yang pantas di terima dari hasil buah karyanya yang menajubkan.


Hingga kini karya-karyanya yang tak lekang oleh zaman masih dibaca oleh semua lapisan masyarakat yang bahkan menembus lintas batas negara dan bahasa.


Di indonesia sendiri, cerpen Penari Izu ini adalah cerpen terjemahan langsung kolaborasi antara Ajip Rosidi dan Matsuoka Kunio yang termuat dalam kumpulan cerpen Penari-penari jepang.


sayang sekali, buku yang pernah kupunya hilang entah kemana, mungkin saja ini sebah karma yang harus kuterima karena aku meminjamnya tanpa izin dan tak pernah ku kembalikan selepas lulus dari smp.


Beruntungnya, beberapa tahun lalu saat blog walking aku tak sengaja menemukan blog yang menerbitkan cerpen ini. Dibagi dalam tiga bagian yang mempermudah saat baca. Sama persis yang pernah kubaca dibuku dulu. Ini mengobati kembali cinta yang hilang sekian lama. Kamu jika bisa membacanya, saya sertakan linknya di bawah.

https://www.kearipan.com/penari-izu-yasunari-kawabata-1/


https://www.kearipan.com/penari-izu-yasunari-kawabata-2/


https://www.kearipan.com/penari-izu-yasunari-kawabata-3/


#usmansan99
#honja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar