Selasa, 12 Juli 2022

kripik pedas kurban

Bagiku 10 dzulhijah cuma hanya ada sekali dalam setahun begitu juga dengan 1 syawal. Tapi entah mengapa selalu saja ada perbedaan diantara mereka. Mempersatukan umat islam di negeri ini seperti menyatukan minyak dan air, meskipun berdekatan, meskipun sampingan, namun tak bisa membaur menjadi satu sama lain menjadi satu. lalu dimanakah mereka meletakkan islam yang damai?


Seperti tahun ini, 1 syawal dan 10 dzulhijah ada perbedaan antara ormas dan pemerintah. Semua mempunyai pendapat dan mengklaim pendapat mereka itu benar, dan mereka berdiri tegak atas pendapatnya. Yang harus kita tahu, penanggalan hijriah adalah penanggalan yang berbasis fase bulan dan bulan yang mengelilingi bumi ini hanya ada satu, kenapa bisa ada perbedaan awal bulan? Sebagai orang awam jelas akan bertanya-tanya.


Lagi-lagi kita seolah diadu domba dengan perbedaan yang ada. Kekeh pada pendirian yang belum tentu kebenarannya dan menyalahkan "yang berbeda" pendapat dengan mereka. Inilah kenapa aku benci orang bodoh yang berpegang teguh pada ilmu pengeyelan. Sayang sekali banyak dari mereka hanya ikut-ikutan mengikuti, karena kecintaan berlebihan pada mereka yang di kultuskan, membuat jadi berpikir irasional.


Kembali lagi, ada dua cara menentukan sebuah awal bulan dalam kalender hijriah. Yang pertama adalah rukyatul hilal dan yang kedua adalah rukyatul hisab. Rukyatul hilal mengunakan cara dengan mengamati langsung bulan yang muncul di ufuk saat pergantian hari. Yang kedua rukyatul hisab yang menggunakan perhitungan falak serta peralatan astronomis yang margin kesalahannya hanya sekitar 0,000001%.


saya sendiri sebagai penganut sains yang mempermudah keidupan, lebih memilih cara rukyatul hisab dengan perhitungan pasti. Bukankah kita akan sangat tertinggal jika menggunakan rukyatul hilal, apalagi dengan keadaan gegrafis indonesia yang banyak sekali gunung dan perbukitan yang jelas akan mempengaruhi sudut pandang, lalu polusi udara sudah tidak bisa di tawar lagi. Bandingkan dengan jazirah arab yang geografisnya gurun pasir, rukyatul hilal itu cara kuno dan tidak cocok di negeri ini.



perlu kita soroti lagi, bahwa perbedaan  waktu  antara kota Makkah dengan waktu Indonesia bagian barat adalah 4 jam, tepatnya 4 jam lebih dahulu. Yang mana apabila di wib sudah menunjukan pukul 4 sore maka di kota makkah 12 siang. bukankah ini perbedaan yang tidak berarti di hari yang sama.


Alangkah eloknya bila saya usul, kenapa kita tidak berpatokan saja pada negara Arab untuk menentukan awal sebuah bulan penanggalan hijriah. Ini tentu akan mempermudah dan menyamakan seluruh penanggalan didunia. Pun dengan mudahnya melihat hilal di atas dataran padang pasir yang rata. Bukankah aneh jika di arab sudah lebaran idul adha, tapi di negeri ini masih puasa arofah, sekali lagi, perbedaan waktunya hanya 4 jam, bukan satu hari layaknya dengan negara Amerika yang sampai 12 jam.


Apakah kita akan terus menerus mempeributkan sesuatu yang yang dengan sains semua menjadi mudah. Bukahkah Rasul SAW selalu memerintahakan untuk mempermudah, bukan memepersulit. apakah ini tidak sama saja dengan ibarat orang-orang sudah berkirim pesan dengan internet kita masih dengan kertas surat, apakah benar begitu?


#usmansan99
#honja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar