Rabu, 06 Juli 2022

Hanya sebuah nama

   



 Aku belum sempat bertanya, apakah ia juga memiliki perasaan yang sama seperti apa yang kurasa. Kini aku berjuang melupakan semua hal yang pernah terjadi. Atau mungkin aku tak akan pernah bisa melupakannya seumur hidup ini. Ku kenal ia pada sebuah masa yang tak terduga. Kami saling pandang tanpa bicara, semua telah terwakilkan dalam bahasa cinta yang sederhana, yang mengalir dari mata menuju ke hati.

    Seharusnya aku menyadarinya sejak pandangan pertama itu, lagi lagi aku yang angkuh ini tak mau mengakui. Tak lepas pandangku mengikuti kemana arahnya, ia kesana mataku kesana, ia kesini mataku kesini, ia tak ada aku mencari. Oh begitukah yang dinamakan rindu, atau itukan yang dinamakan gila. Hingga, waktu yang singkat memisahkan dua anak manusia yang belum mengenal secara sempurna. Namanya, ya hanya namanyalah yang kuingat, nama yang selalu membuatku terus mengingatnya.

    Begitu aku pergi, begitu ia tak terlihat lagi, hari demi hari. Bodohnya aku ini, kenapa aku tak bertanya, kenapa aku hanya dia saja. Bunga yang mekar akan lalu setelah usai masanya, langit yang terang berganti gelap tak kala mendung datang. dan segalanya berganti, tapi tidak dengan perasaan ini.


#honja




Read More >>

Selasa, 05 Juli 2022

Review: 20th century boys movie


Gila, luar biasa, bikin geleng geleng kepala, mencengangkan, tak dapat di duga, sesuatu yang bisa membuat otak jadi ngilu. Begitah pendapat gue saat menonton trilogy live action adaptasi manga yang di buat oleh mangaka Naoki Urasawa. Gue gak habis pikir kok bisa ya Naoki Urasawa membuat manga segila ini.


Gue menontonnya pertama kali  waktu gue kerja shif malam di warnet tahun 2014, dan gue saat itu gak nyambung sama sekali saat itu dengan jalan ceritanya. Tapi di tahun ini, tahun 2022, di umur gue yang baru menginjak ke 29 gue mulai paham, mungkin dulu, pertama kali nonton gue masih muda dan belum terlalu bisa memahami sebuah emosi. Seperti humor dewasa yang hanya bisa di pahami saat memasuki fase dewasa.


Disini gue gak akan menceritakan secara detail, hanya garis besarnya saja. Dan gue gak mau kalian kehilangan feeling kalau nanti mau menontonnya. Karena kalau sesuatu sudah tahu sejak awal gak bakan seru.


Kenji Endo karakter utama di film pertama 20th century boys
Beginning of the End, mulai menyadari kalau hilangnya orang-orang ada hubungannya dengan aliran yang di pimpin "Tomodachi" setelah mengingat simbol yang tergambar di dinding rumah tetangganya yang menghilang. Kenji juga menyadari kalau "Tomodachi" ini adalah organisasi khayalan yang ia buat semasa ia masih bocah sd. Saat itu kenji dan kawan-kawannya di tempat rahasia yang disebut pangkalan, menulis sebuah buku skenario masa depan tentang kehancuran dunia dan Kenji beserta kawan-kawan akan bertindak sebagai pahlawan. Buku itu di beri nama yogen no sho atau buku ramalan . Dan apa yang sedang terjadi sama persis dengan yang ada didalam buku itu.


Ia menduga salah satu temannya ada dibalik aliran itu, Karena buku ramalan itu di buat secara rahasia bersama teman-temannya.


Khas Naoki Urasawa, cerita yang di hadirkan begitu kompleks, bisa di bilang ruwet apalagi kalau baca manganya harus sering lihat kembali ke halaman sebelumnya. Alur maju mundur, penuh dengan tebakan dan misteri dan semua potongan misteri itu membuat kejutan tanpa di duga.


Dari sini gue malah melihat kalau simbol  atau lambang "Tomodachi" ini mirip sekali dengan simbol mata satu yang memang terkenal dalam dunia konspirasi sebagai mata yang melihat segalanya, mata dajjal dalam agama islam.




Mata yang muncul dalam dalam berbagai logo organisasi dunia yang mengarah pada organisasi tatanan dunia baru. Mungkin Naoki Urasawa terinspirasi pada simbol ini, atau memang ia secara terselubung sedang menunjukan bahwa oraganisasi itu memang ada.


Tapi setelah itu gue teliti lagi, gue malah melihat yang lain, coba kalian lihat lagi "tomodachi" secara keseluruhan, gue Malah melihat perpaduan anonymous dan iluminati, mungkin ini hanya kebetulan saja, tapi konspirasi tetaplah konspirasi, sesuatu yang terselubung.


Pun di kisahkan begitu di 20th Century Boys 2: The Last Hope.
Kalau di film pertama dibuat tegang maka di film kedua akan dibuat mengalir begitu saja, tak banyak ketegangan yang tercipta tapi banyak petunjuk yang mulai terlihat jelas.


Di film kedua "Tomodachi" juga mati setelah tertembak, tapi bangkit lagi di 3 hari setelah kematiannya, yang ini juga di samakan dengan bangkitnya Yesus, sesuatu penggambaran yang mirip banget, punya sebuah kemampuan hidup lagi, pantas saja pengikut "Tomodachi" menganggapnya sebagai tuhan. Lagi-lagi Naoki Urasawa memberi petunjuk baru tentang akhir zaman, tentang adanya kekacauan, konspirasi, rekayanya dan tipu daya.


Lalu berlanjut ke akhir trilogy, dimana film ini di akhiri dengan epic. Dengan judul  20th Century Boys 3: Redemption. Semuanya mulai terlihat jelas. seolah potongan puzzle yang telah di selesaikan, semua petuntuk, teka-teki dan misteri terungkap jelas.


Siapa sebenarnya tokoh tomo dachi yang di film sebelumnya masih samar kini mulai terungkap. Yang tidak di sadari, tokoh di balik topeng "Tomodachi" sebeneranya sudah muncul diawal film pertama, tapi begitulah, dengan ciamiknya  Naoki Urasawa mengemasnya dengan puzle yang hanya dapat di pecahkan ketika semuanya telah selesai dan berakhir, bravo.


Akhirnya kenji akan tahu siapa "Tomodachi" sebenarnya, apa yang melatari ia melakukan semua itu. Film ini pun diakhiri dengan lagu Gutarara sutarara yang sejak awal film menjadi lagu yang menyiratkan segalanya.


oh ya di forum ada yang bertanya apakah tokoh "Tomodachi" itu benar punya kekuatan supra natural yang bahkan di film kedua ia bisa bangkit dari  kematian?


kalau menurut gue "Tomodachi" memang punya kekuatan supra natural, ini bisa di lihat di scene dimana ia tergantung tapi masih hidup meski lehernya terikat tali dalam gantungan di lab semasa sd, Tapi tidak jelas juga karena saat tertembak ia menggunakan topeng yang bisa saja itu hanya pengganti. karena memang sejak awal ia menggunakan topeng, tidak ada yang tahu siapa sebenarnya yang ada di balik "Tomodachi".


Terakhir saya menyoroti tokoh dibalik topeng "Tomodachi" yang sejak kecil di jauhi teman-temannya bahkan dianggap telah mati, atau mati sungguhan?. Memang benar Kesepian, kesendirian, kesunyian sering kali melahirkan kejahatan, di mana dalam kesunyian bisik-bisik mereka terdengar jelas.


Secara keseluruhan gue beri nilai 98 dari 100


Eit ada satu lagi, gue ngidam banget punya motor copper yang di pake kenji di film terakhir, kaya ada unik-uniknya gitu. So selamat penasaran dan segera menontonlah.


#usmansan99
#honja

Read More >>

Kamis, 30 Juni 2022

Persija butuh Bang Yos



Sebagai salah satu pendukung sekaligus fans, saya prihatin dengan kekalahan yang terus menerus dialami Persija dalam setiap pertandingan. Di liga satu musim lalu saja persija bahkan hanya menghuni papan tengan dan bawah, dan nyaris saja terdegradasi. Sungguh ironi bagi club sebesar persija yang notabene club ibukota.


Kekalahan demi kekalahan yang di telan tentu saja membuat kecewa para pendukung Persija. kekalahan yang berlarut-larut seolah di biarkan tanpa adanya perubahan. Yang terakhir, persija harus tersingkir dari penyisihan grup turnamen pra musim, Piala Presiden, dengan keseluruhan pertandingan kalah.


Di tilik dari performa tim, memang persija menggunakan hampir 80% punggawa baru. Ditambah dengan pemain asing asal Jepang yang menggantikan seluruh pemain asing sebelumnya.


Dan juga kini club Persija dilatih oleh pelatih baru Thomas doll, yang mana didatangkan langsung asal jerman yang semasa mudanya pernah merumput bersama club-club besar Eropa dan pernah juga melatih club Humberg dan Borussia Dortmunt.


Lalu kenapa dengan materi tim dan pelatih asing baru, persija masih kesulitan untuk maju dan meraih kemenangan. Tentu saja di balik kekecewaan itu saya bertanya tanya.


Lalu saya menganalisis banyak data, dari setiap pertandingan, dari masa-masa sebelumnya, saya menemukan hal menarik. Dimana dari sekian musim yang diarungi tim persija, dari mulai awal dimulainya liga indonesia.


Hal yang menarik itu adalah sampai saat ini persija tidak punya leader atau pemimpin yang bisa dipandang mampu membawa Persija kearah yang lebih baik selain bang yos, atau gubernur Sutioyoso. Terlepas dari carut marutnya liga, hanya bang yos lah yang penah membawa persija menjadi kampiun liga Indonesia di musim 2001.


Memang benar di musim 2018 Persija mengulang kembali sejarah dengan menjuarai liga 1 bersama pelatih Stefano cuggura teco, tapi itu di warnai dengan berbagai kontroversi di tubuh PSSI.


Dahulu di bawah komando bang Yos yang saat itu menjabat jadi gubernur jakarta, persija dirombak total, dibawa dan diarahkan dengan baik. Club dibenahi, pemain asing langsung di cari dari negaranya. Bang yos juga mengubah warna jersey dari Persija dari yang awalnya berwarna merah-putih jadi oranye.


Bang yos menganggap merah-putih kurang kuat sebagai identitas persija karena club lain dan juga timnas Indonesia sudah menggunakannya. Maka Bang yos nemilih warna oranye yang lebih mentereng dan megah. Yang mana warna oranye juga di gunakan Timnas belanda yang saat itu menjadi Timnas elit di kancah persepakbolaan dunia.


Sebagai "Revolusioner Persija",  Bang Yos dengan gaya kepemimpinan yang diktator ala militer mengubah Persija kala itu menjadi macan kemayoran yang sesungguhnya, yang mengaum dan membuat gentar lawan. Hingga pada liga Indonesia musim 2001 berhasil mengantarkan jadi juara.


Itulah kenapa saat ini, Persija butuh sekali seorang leader yang mampu merevolusi dan mengembalikan kejayaan. Saya mulai berandai-andai jika Bang yos mau kembali membina club Persija seperti dulu. Mungkin saja Persija akan "mengaum" lagi seperti macan bukan "mengeong" seperti kucing. Semoga bang Yos mendengar ini.


#usmansan99
#honja

Read More >>